10/15/11

Cerita Kamu dan Aku

Ingatkah kamu bahwa kamu dan aku pertama kali bertemu di sudut kampus?


Saat itu adalah masa-masa awal perkuliahan. Kamu tentu saja seorang yang amat menarik dengan rambut dan pakaian yang tertata rapi. Interaksi pertama kita adalah saat aku mencoba menarik perhatian kamu dengan menepuk-nepuk bahumu sambil memanggilmu. Namun, kau tak menggubrisku, apalagi menoleh ke arah suaraku. Tidak, itu bahkan tidak layak disebut interaksi, tetapi hanya aku yang mencoba.

Kamu bilang aku mulai menarik perhatianmu ketika aku menjawab pertanyaan dosen di kelas. Menurutmu, aku sok tahu dan sok pintar. Aku menganggap itu hal yang baik karena setidaknya kamu akhirnya memperhatikanku. Kamu juga tidak akan menyangka bahwa akhirnya kamu dan aku menjadi dekat.

Aku selalu melihatmu sebagai seseorang yang memiliki magnet untuk membuat semua orang di sekitarmu tersenyum. Kamu pintar, membuatku selalu ingin bertanya dan berbagi diskusi. Kamu keras kepala begitu juga aku, dan itulah yang membuat perdebatan hampir selalu mengiringi hari-hari kita. Meskipun begitu, aku hampir selalu merasa nyaman berada di dekatmu, mendengar keluh kesahmu. Ya, hampir....

Belakangan ini, aku merasakan ketidaknyamanan setiap berada di dekatmu. Tidak, bukan dirimu yang salah, tapi aku. Aku merasa kehilangan kamu akhir-akhir ini. Ya, tanganmu seperti telah lepas dari genggaman tanganku setelah ada tangan lain yang muncul tiba-tiba. Itu masih dapat kulewati dibanding kamu yang berkali-kali memintaku untuk cepat-cepat mencari belahan jiwaku. Sungguh menyesakkan melihat rasa kasihan tercermin di bola mata yang kamu tujukan untukku.

Duhai sahabatku, bantulah aku dan bersabarlah......

Template by:

Free Blog Templates